Saya tidak ingat dengan pasti tanggal saat saya bertemu pertama kali dengan Ibu yang sangat rapuh itu. Pertemuan dengan beliau begitu membuat hati saya sangat miris melihat kondisinya.Dia datang dengan seorang anak berumur 9 tahun yang merupakan anak kandung ibu tersebut. Wanita paruh baya yang sudah memiliki banyak keriput diwajah akibat terpaan kerasnya hidup tersebut tetap berusaha tabah dalam menjalani ini semua. Saya tidak ingat nama ibu tersebut, tetapi saya hanya mengingat nama anaknya yakni Bizmi. Adik kecil yang sedang dalam masa fase pertumbuhan. Mereka adalah penduduk asli dari salah satu kabupaten atau mungkin lebih tepatnya desa di Langsa, Aceh.
Mereka datang ke kota sebesar kota Medan ini bukanlah untuk berekreasi selayaknya sepasang ibu dan anak. Malah cukup memiris hati, karena kedatangan tersebut untuk melakukan pengobatan kepada adik kecil, Bizmi! Menginjakkan kaki ke kota Medan hanya mencari tangan seorang ahli yang sanggup menyembuhkan penyakit Hiperthyroid yang diderita Bizmi. Saya sempat tertegun ketika sehabis pulang kuliah, waktu itu saya tiba sekitar pukul 20.00 Wib, Bapak saya memperkenalkan Ibu Bizmi beserta anaknya. Bapak memberitahu bahwa Ibu tersebut menumpang mobil yang dibawa oleh bapak saya. Mereka sudah kemalaman dan juga tidak tahu arah tujuan di kota Medan. Lokasi tempat pertemuan Ibu Bismi dan Bapak berada di salah satu terminal di kota Binjai. Bapak pun mengajak mereka mengobrol dan memutuskan untuk membawa kerumah kami.
Malam itu, saya hanya hanya sebatas bertegur sapa biasa dan tersenyum seramah mungkin. Saya cukup lelah karena perkuliahan. Dengan nada sedikit memohon, Bapak dan mamak meminta saya untuk menemani Ibu tersebut ke salah satu Rumah Sakit Umum Pusat yakni Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan. Saya hanya mengatakan iya tanpa perlu memikirkan bagaimana untuk urusan besok. Pagi harinya, sebelum saya bangun, ternyata Ibu tersebut sudah bangun dan mempersiapkan semua perlengkapan untuk dibawa ke rumah sakit. Saya juga segera bergegas untuk mandi karena pukul 08.00 Wib saya ada kuliah. Saya tidak mau terlambat terlebih Asisten Dosen pengasuh mata kuliah tersebut, jika terlambat tidak memperbolehkan kami masuk. Setelah selesai berbenah,
Orang tua saya kembali mengingatkan saya agar mau mengantarkan mereka ke Rumah sakit. Mereka itu hanyalah orang daerah yang tidak mengerti arah kota Medan. Saya ingin sekali pergi untuk mengantarkan Ibu dan Izmi ke sana. Tetapi, ego saya berkata saya tidak boleh terlambat masuk kuliah. Jadi, saya hanya mengantarkan mereka sebatas kampus saya saja. Lalu saya menaikkan mereka ke angkot lain yang tujuan akhirnya ke Rumah Sakit Adam Malik. Setelah menaikkan mereka ke angkot, perasaan saya tidak merasa puas begitu saja. Malah, perasaan bersalah yang muncul karena melepaskan mereka tanpa petunjuk yang lebih jelas. Sepanjang perjalanan dari Sumber menuju Kampus, saya terus terpikir akan nasib mereka di rumah sakit yang terkenal akan keculasan dalam pelayanan terhadap pasien. Terlebih mereka adalah pasien peserta ASKESKIN, yakni asuransi kesehatan bagi masyarakat miskin. Perbuatan perawat tentu semena-mena, dokter yang mengobati tentulah para mahasiswa yang sedang belajar. Istilah kasarnya mereka bakal dijadikan sebagai kelinci percobaan. Didalam angkot, sewaktu di perjalanan,
Ibu bercerita bagaimana sampai dia ketemu Bapak kemaren malam. Dia bingung karena sudah kemalaman sampai ke terminal menuju Medan, tidak tahu akan menginap di mana, Uang di saku juga sangat minim, yang ada hanyalah setumpuk permasalah yang mendera di punggung sang Ibu. Ibu tersebut sudah bingung harus membawa kemana anaknya berobat, dengan rujukan surat miskin dia membawa Bismi ke Medan. Dia memiliki 4 orang anak, dan seorang suami yang telah mempoligami dirinya. Pedih memang,tapi itu semua dijalaninya dengan segala ketabahan. Dengan bekerja serabutan dan biaya yang cukup mencekik dalam hal pengobatan terus ia tempuh. Pedih sekali hidup Ibu Bismi. Saya sempat terpikir, apa yang harus saya lakukan jika saya yang berada diposisinya. Besok harinya, Handphone saya berbunyi dan di layar tertera ada sebuah SMS dari Ibu tersebut yang mengabarkan bahwa mereka akan rawat inap di Rumah sakit tersebut. Hati saya mulai ringan dan berharap agar semua berjalan dengan lancar.
Selang beberapa hari kemudian, Ibu tersebut kembali mengirimkan SMS dan didalam SMS tersebut berisikan doa, ucapan terimakasih dan harapan agar Tuhan Membalas apa yang telah kami berikan kepada keluarganya. Hati saya begitu tersentuh, apakah pengorbanan saya yang tak seberapa dan terkesan meninggalkan mereka di tengah jalan tujuan pantas untuk dikirimkan doa seindah itu? Saya merasa bahwa pengetahuan yang akan saya dapatkan di hari itu untuk mata kuliah HUKUM MEDIA MASSA tidaklah lebih berguna dibandingkan dengan membantu ibu tersebut hingga bertemu dengan dokter yang tepat. Kemarin, Ibu tersebut datang kembali kerumah saya. Takdir mempertemukan kami kembali, saya sempat mengobrol dengan dirinya, bercanda dengan Bismi dan kembali mengantarkan mereka sebatas Sumber. Tapi kali ini, hati saya mulai tenang dikarenakan, mereka sudah mulai mengerti akan arah tujuan di kota Medan. Harapan saya yang paling besar adalah, agar Tuhan memberikan kesembuhan kepada Bismi, dipertemukan dengan dokter, perawat dan pegawai Rumah Sakit yang ramah, dan tak lupa kepada Ibu tersebut, agar derita seorang Ibu yang layu sebelum batas usia yang sewajarnya dapat berkurang.