Ekshibisionisme dan Frotteurisme

Pelecehan seksual kerap terjadi dimana saja, biasanya pelecehan terjadi di tempat sepi dan dalam suasana yang jauh dari keramaian. Tapi tidak begitu dengan pelecahan seksual dalam kategori Ekshibisionisme dan Frotteurisme. Yang dimaksud dengan pelecahan seksual pada kategori Ekshibisionisme adalah pria tersebut menunjukkan alat kelaminnya kepada wanita, dan ketika wanita tersebut menjerit, dan berteriak, maka dia akan semakin terangsang. Nah, hal iini sudah sering kita ketahui dan mungkin alami. Cara yang paling ampuh adalah dengan cara memaki dan juga membentak sang pria, dijamin dia akan malu dan mungkin jera dengan perbuatannya. Dan kita sebagai wanita jangan mau hanya diam ataupun menjerit yang ujung-ujungnya, si pria kurang ajar tersebut akan semakin menikmatinya.

Untuk istilah frotteurisme, iini biasa terjadi di tempat keramaian, dan lebih gilanya lagi, di tempat yang sangat berdesak-desakan seperti bus dan juga kereta listrik. Waspada, mereka biasanya suka menggesek-gesekkan alat vitalnya ke bagian tubuh wanita. Dan kita terkadang menyangka itu mungkin dikarenakan terlalu ramainya suasana. Ada pengalaman adik teman saya yang membuatnya trauma untuk naik bus umum di Jakarta. ketika dia turun, dia melihat bahwa rok nya sudah dalam keadaan basah. Dan anda tahu sendiri, bahwa sebelumnya dia seperti didesak-desak di dalam bus. Ternyata itu adalah perbuatan iseng sang Frotteur, dan bisa anda bayangkan dia mengeluarkan sperma nya ke rok si wanita tadi.

Jadi, berhati-hatilah di bus atau tempat umum. Terlebih saat-saat jam sibuk berangkat dan pulang kerja, di busway, bus umum atau KRL, tidak hanya pada barang bawaan anda, tapi terhadap eksploitasi terhadap tubuh anda. Karena, jika kita tidak berhati-hati maka kita sendiri yang akan merugi. Tapi inilah yang dinamakan resiko menggunakan moda transportasi umum, mulai dari aroma berbagai jenis bau tubuh yang penuh keringat, pencopet, hingga ulah jahil para ekshibis dan Frotteuris.

Published in:  on April 17, 2009 at 1:34 pm Leave a Comment
Tags: , , ,

Tayangan Indonesia “SUCK”

Parah benar jagad persinetronan di Indonesia. Cukup disayangkan juga tayangan seperti itu masih juga membanjiri wajah pertelevisian Indonesia.  Tayangan sadisme memang sudah dikurangi, tapi tayangan pembodohan dan juga tayangan yang berlebihan, masih juga tumpah ruah.

Untuk acara reality show seperti Termehek-Mehek di Trans TV contohnya, ampun banget liat tayangan yang satu ini. Coba anda saksikan sendiri bagaimana sebuah reality show itu membuat tayangan yang membuat kita para penonton yang mengerti akan tirai di “balik media” yang kita sebut dengan media made reality akan sangat muak dengan tayangan tersebut.

ada satu episode dimana, seorang anak diculik oleh gembong pengamen di stasiun kereta. Nah, disitu keluarga anak tersebut mengirimkan kisah mereka kepada tim kreatif Termehek-mehek.  Dan seperti biasa, di akhir cerita, Tim tersebut berhasil melepaskan anak tersebut dari jeratan tangan penjahat. Jika ditilik dengan nalar yang sehat, apakah mungkin sebuah tim reality show mampu mengalahkan tim dari kepolisian yang berusaha untuk mengusut kasus penculikan anak. Dan hal itu benar-benar membuat saya yang menonton hanya bisa berpikir beberapa kemungkinan, apakah keluarganya tidak melaporkan kasus penculikan tersebut ke pihak kepolisian? Alternatif  lain adalah, apakah jika melapor ke pihak kepolisian akan dikenakan biaya pelaporan (Berhubung keluarga yang ada di TV tergolong keluarga kurang mampu), atau pilihan terakhir, apakah warga negara Indonesia lebih mempercayakan keselamatan keluarganya kepada pihak media daripada kepolisian?

Untuk kasus sinetron, lihat saja sinetronTa’aruf di TPI. Sinetron tersebut menceritakan hal-hal yang tidak masuk akal. Apakah ada manusia di dunia ini yang siapa pun yang menemuinya akan langsung jatuh cinta kepada sosok dirinya. Tolong lah ya, itu harus diformat ulang. Tapi syukur saja, tayangan tersebut sudah tamat. Ga masuk akal sekali filmnya. Dan itu termasuk sinetron “Busuk” yang pernah saya tonton. Bagaimana sih pola pikir dari sutradara sinetron tersebut?

sama seperti Ta’aruf, ada juga sinetron islami lainnya yang sepertinya dari rumah produksi yang sama yakni sinetron Muslimah di Indosiar. Ini benar-beanr keterlaluan, apakah mungkin ada orang selemah dan setolol si pemeran utama, dia mengharapkan perubahan nasibnya dengan hanya memanjatkan doa, tanpa usaha sama sekali. Padahal dia tahu bahwa si Hadist Rasul diceritakan bahwa Takdir manusia tidak  akan berubah sebelum dia berusaha untuk merubahnya sendiri. dan hampir semua pemainnya adalah antagonis. Nilai moralnya cukup rendah untuk sinetron romansa religi.

Dan hal terakhir adalah tayangan sinetron remaja yang cenderung mengajarkan hedonisme kepada khalayak penonton terlebih remaja yang menontonnya. Menceritakan hal-hal yang tidak bermutu dan berujung pada kisah percintaan ABG, dan hampir tidak memiliki nilai edukasi.

Untuk itu, saya sangat berharap, agar pihak-pihak yang berwenang dalam membuat tayangan atau istilahnya pemodal, untuk membuat sesuatu yang menyegarkan dan bermutu. Karena kitaadalaha negara yang  masih dalam tingkat media literasi rendah.

Published in:  on January 12, 2009 at 8:14 am Comments (9)

Fenomena Komunitas Homoseksual (Studi Fenomenologis KOmunikasi Verbal dan Nonverbal di kalangan GAy terselubung di Kota Medan)

ABSTRAKSI

Fokus penelitian ini mengambil tema Fenomena Komunitas Homoseksual dengan subjek penelitian adalah komunikasi verbal dan nonverbal di kalangan gay terselubung di kota Medan.Tujuan dari penelitian ini untuk mencari alasan seseorang menjadi gay terselubung, mencari latar belakang seseorang menjadi gay, mengetahui simbol-simbol verbal dan nonverbal yang digunakan gay dalam berkomunikasi serta mengetahui aktivitas dan peranan yang dimainkan seorang gay di luar dan di dalam komunitasnya.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis yakni sebuah pendekatan bagaimana dunia di dalam pengalaman pelaku perilaku, dengan didasari asumsi epistemologis bahwa kenyataan adalah apa yang ada di dalam bayangan dari pelaku. Penelitian ini berada pada paradigma konstruktivisme yang melihat pengalaman manusia terdiri dari intrepretasi bermakna terhadap kenyataan dan bukan reproduksi kenyataan. Pendekatan fenomenologi menggunakan metode Van Kaam yang meliputi tiga fase perenungan yang membedakan yaitu epoche, reduksi fenomenologi dan variasi imajinatif dan akhirnya gambaran tekstural dan struktural diintegrasikan untuk sampai pada pemahaman tentang esensi fenomena.

Objek penelitian adalah kaum gay terselubung yang tersebar di kota Medan. Para informan yang diteliti berasal dari latar belakang, pekerjaan, suku dan agama yang berbeda sehingga penelitian ini cukup menarik dan menantang untuk dilakukan. Setelah melakukan observasi yang cukup mendalam dan bersifat parsipatoris, maka data serta analisis yang disajikan adalah berupa pengalaman dari para informan. Peneliti berusaha masuk ke dalam dunia informan dan memandang persoalan yang mereka hadapi seperti merasakannya terhadap diri sendiri, lalu peneliti keluar kembali dan melihat melalui bird angle yakni suatu sudut pandang dimana realita yang sesungguhnya terjadi adalah hasil dari konstruksi pengalaman dan intrepretasi sang peneliti.

Melalui penelitian terhadap fenomena komunitas homoseksual ini ditemukan bahwa komunikasi verbal dan nonverbal yang digunakan para gay terselubung di kota Medan cukup bervariasi dan pengalaman penggunaan simbol-simbol tersebut berbeda satu sama lain. Juga sebuah kenyataan bahwa Indonesia khususnya Medan masih sebuah tempat di mana komunitas gay belum dapat menunjukkan eksistensi dirinya sebebas mungkin dikarenakan ikatan norma yang berlaku. Penelitian ini juga menunjukkan bagaimana mahirnya para gay terselubung menyembunyikan identitas ke-gay-an mereka dan berlaku layaknya para pria heteroseksual.

v

Published in: Uncategorized on August 1, 2008 at 5:57 am Comments (41)

The Man is..

Aku neh tipe orang yang gampang banget naksir ma orang.. Harap maklum, tapi bentar lage juga ilang tuh perasaan.

Tapi sampe sekarang aku ga bisa ngelupain 2 pria hebat yang pernah kukenal dalam hidupku. Mereka adalah pak ferry sang Kabiro di Metro Tv dan juga dr. Hendri andreas yang barangkali uda jadi dokter bedah sekarang.

Penasaran?

Itu dia, pose yang paling aku suka dari pak Ferry. foto ini kucuri waktu pas PKL di Metro TV, bela-belain pagi-pagi datang biar ga ketahuan. Lucu juga klo ngingat itu.

Pak Ferry ini ya, sebelum di Metro dia juga jadi Redakturnya Media Indonesia lho. Hebat kan,

Pinter, bersahaja, ramah, tapi ya suka bokep juga dia.. Namanya juga manusia… tul ga??jadi normal ajalah..

Satu lage, tipe bapak-bapak yang kusuka..

namanya dr. Hendri Andreas, Sp. B

Hehehe..dia salah satu PPDS yang kukenal waktu aku berobat di Adam Malik.

Yoa, trus kami ketemu lage di perpus USU..wow, bahagia kale lah perasaan ku!!

Banyak cara yang harus kulakuin biar bisa berfoto ma mereka..walaupun cuma foto, aku uda cukup puas kok..hehehehe

Modus di Metro

Semoga mereka berbahagia bersama keluarga mereka.

Yah, pak Ferry dengan ketiga anaknya, dan dr. Hendri Andreas smoga segera mendapatkan momongan..

Amin!!!

Tulus neh…

Published in:  on May 21, 2008 at 12:35 pm Comments (8)

Kenapa Bisa Begini??


Sewaktu aku menulis permasalahan ini, aku menyadari bahwa kondisi psikis ku sedang tidak stabil. Yah, biasalah kalau sedang menstruasi, aku sedikit sensitif terhadap segala sesuatunya. Seperti halnya permasalahan ketika aku berada di suatu tempat yang cukup mewah, tiba-tiba aku memikirkan orang-orang yang tak kukenal dan hidup dibawah standar ekonomi yang seharusnya pemerintah lebih akif untuk membantu mereka keluar dari lingkaran setan kemiskinan tersebut

Entahlah, para orang kaya akan mendatangi tempat mewah dan dengan sesuka hati memilih makanan dan mengeluarkan uang dengan mudahnya. Sementara, para orang susah masih harus berpikir bagaimana harus membagi uang pencaharian yang pas-pasan tersebut dan apa yang dapat dibelanjakan dengan uang tersebut?

Aku merasa sangat tidak pantas berada di tempat mewah itu dan bersenang-senang, sementara masih banyak manusia lain yang hidup kekurangan. Aku tidak tau siapa yang harus ku salahkan atas semua ini. Aku turut merasakan kepedihan yang mendalam atas apa yang mereka rasakan, namun aku juga merasakan kegembiraan para orang kaya tersebut ketika aku tertawa dan bersenang-senang bersama teman ku di tempat mewah. Terlalu LAKNAT kah diri ku karena hanya bisa merasakan tanpa tindak lanjut yang lebih nyata? Perasaan ini terus bergejolak setiap aku berjalan untuk sekadar hang out bersama teman satu genk. Aku ingin sekali semua kemiskinan dan penderitaan yang timbul akibat permasalahan ekonomi itu hilang di dunia yang materialistis ini. Aku kesal, aku marah, aku benci dan aku muak akan kondisi seperti itu.

Aku hanya bisa merasakan, tanpa bisa memberikan solusi. Aku hanya memiliki empati tanpa adanya tindakan yang berarti.

Ini semua hanya membuat aku sakit baik dari segi fisik karena pusing memikirkan hal ini secara berkelanjutan dan kepala ku terus berdenyut, mata ku merah karena menahan tangis, dan yang lebih miris adalah hatiku yang sangat terluka akan kondisi ini. Tuhan, aku berdoa dan berharap kepada Mu, kalau saja nanti pada suatu hari, Kau berikan aku kesuksesan, aku akan berusaha agar aku selalu membagi kebahagian yang timbul karena aku memiliki materi yang pantas untuk kubagikan kepada mereka sesama saudara ku di dunia ini. Amin!! Hopely…

Published in:  on January 21, 2008 at 8:44 am Leave a Comment

Her

Umurnya 60 tahun. Dia hidup sebatang kara. Para tetangganya,
orang-orang papa yang tinggal di gubuk kardus perkampungan liar-kumuh
Kota Medan, mengenalnya dengan nama sederhana: “Emak”. Tidak ada
yang tahu nama aslinya.

Awal pekan ini, Emak ditemukan meninggal, tiga hari setelah para
tetangganya melihatnya hidup terakhir kali. “Sejak Jumat pekan lalu,
Emak tidak pernah kelihatan,” kata seorang tetangganya seperti dikutip
Kantor Berita Antara. “Saat gubuknya dilongok, Emak sudah terbujur
kaku di dalam.”

Polisi yang datang kemudian memutuskan perempuan itu meninggal karena
sebab alami, besar kemungkinan sakit karena tua.

Kita tidak tahu persis berapa jumlah orang seperti Emak, orang miskin
perkotaan yang hidup di gubuk-gubuk kardus, seorang diri. Mengais
remah-remah kota, dia terlalu miskin bahkan untuk hidup sehari-hari,
apalagi berobat ketika sakit.

Yang kita tahu persis, Emak adalah simbol dari pengabaian negara. Emak
tidak memperoleh dana kompensasi pencabutan subsidi bahan bakar yang
katanya ditujukan untuk orang miskin. Emak terlalu miskin untuk bisa
disebut miskin. Dia tak nampak dalam radar Ketua RT dan RW, apalagi
petugas Badan Pusat Statistik yang berkewajiban mendata orang miskin
secara “door to door”. Emak tidak punya “door” untuk diketuk.

Bahkan tanpa pencabutan subsidi, konstitusi negeri ini mengatakan
“fakir miskin, orang jompo dan anak terlantar disantuni negara”. Tapi,
Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah belum lama ini mengatakan “minta
maaf, pemerintah tak bisa menyantuni anak-anak dan orang jompo yang
terlantar di jalanan karena kesulitan keuangan.”

Indonesia memang bukan negeri kaya. Tapi, jasad beku Emak menjadi
bukti bahwa negeri ini bahkan tidak bisa memenuhi kewajibannya yang
paling elementer sesuai konstitusi, meski anehnya bisa memberi
tambahan tunjangan Rp 10 juta per bulan buat tiap tuan dan nyonya di
Senayan, dan sampai sekarang masih setia membayar bunga obligasi rekap
puluhan triliun setiap tahun—obligasi ratusan triliun rupiah yang
dinikmati segelintir bankir dan konglomerat.

Jasad Emak kini masih beku di ruang mayat Rumah Sakit Haji Adam Malik,
Medan. “Menunggu keluarga yang datang untuk menguburnya,” kata
petugas di situ. Malang bagi Emak, tidak ada keluarga yang bakal
datang. Tubuhnya akan segera dikubur di pemakaman orang-orang tak
dikenal, tanpa batu nisan. Namanya bahkan tak pernah menjadi catatan
kaki pun dalam sejarah keruwetan republik ini.

Published in:  on December 25, 2007 at 7:16 am Comments (1)

Ibu daRi AcEh


Saya tidak ingat dengan pasti tanggal saat saya bertemu pertama kali dengan Ibu yang sangat rapuh itu. Pertemuan dengan beliau begitu membuat hati saya sangat miris melihat kondisinya.Dia datang dengan seorang anak berumur 9 tahun yang merupakan anak kandung ibu tersebut. Wanita paruh baya yang sudah memiliki banyak keriput diwajah akibat terpaan kerasnya hidup tersebut tetap berusaha tabah dalam menjalani ini semua. Saya tidak ingat nama ibu tersebut, tetapi saya hanya mengingat nama anaknya yakni Bizmi. Adik kecil yang sedang dalam masa fase pertumbuhan. Mereka adalah penduduk asli dari salah satu kabupaten atau mungkin lebih tepatnya desa di Langsa, Aceh.

Mereka datang ke kota sebesar kota Medan ini bukanlah untuk berekreasi selayaknya sepasang ibu dan anak. Malah cukup memiris hati, karena kedatangan tersebut untuk melakukan pengobatan kepada adik kecil, Bizmi! Menginjakkan kaki ke kota Medan hanya mencari tangan seorang ahli yang sanggup menyembuhkan penyakit Hiperthyroid yang diderita Bizmi. Saya sempat tertegun ketika sehabis pulang kuliah, waktu itu saya tiba sekitar pukul 20.00 Wib, Bapak saya memperkenalkan Ibu Bizmi beserta anaknya. Bapak memberitahu bahwa Ibu tersebut menumpang mobil yang dibawa oleh bapak saya. Mereka sudah kemalaman dan juga tidak tahu arah tujuan di kota Medan. Lokasi tempat pertemuan Ibu Bismi dan Bapak berada di salah satu terminal di kota Binjai. Bapak pun mengajak mereka mengobrol dan memutuskan untuk membawa kerumah kami.

Malam itu, saya hanya hanya sebatas bertegur sapa biasa dan tersenyum seramah mungkin. Saya cukup lelah karena perkuliahan. Dengan nada sedikit memohon, Bapak dan mamak meminta saya untuk menemani Ibu tersebut ke salah satu Rumah Sakit Umum Pusat yakni Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan. Saya hanya mengatakan iya tanpa perlu memikirkan bagaimana untuk urusan besok. Pagi harinya, sebelum saya bangun, ternyata Ibu tersebut sudah bangun dan mempersiapkan semua perlengkapan untuk dibawa ke rumah sakit. Saya juga segera bergegas untuk mandi karena pukul 08.00 Wib saya ada kuliah. Saya tidak mau terlambat terlebih Asisten Dosen pengasuh mata kuliah tersebut, jika terlambat tidak memperbolehkan kami masuk. Setelah selesai berbenah,

Orang tua saya kembali mengingatkan saya agar mau mengantarkan mereka ke Rumah sakit. Mereka itu hanyalah orang daerah yang tidak mengerti arah kota Medan. Saya ingin sekali pergi untuk mengantarkan Ibu dan Izmi ke sana. Tetapi, ego saya berkata saya tidak boleh terlambat masuk kuliah. Jadi, saya hanya mengantarkan mereka sebatas kampus saya saja. Lalu saya menaikkan mereka ke angkot lain yang tujuan akhirnya ke Rumah Sakit Adam Malik. Setelah menaikkan mereka ke angkot, perasaan saya tidak merasa puas begitu saja. Malah, perasaan bersalah yang muncul karena melepaskan mereka tanpa petunjuk yang lebih jelas. Sepanjang perjalanan dari Sumber menuju Kampus, saya terus terpikir akan nasib mereka di rumah sakit yang terkenal akan keculasan dalam pelayanan terhadap pasien. Terlebih mereka adalah pasien peserta ASKESKIN, yakni asuransi kesehatan bagi masyarakat miskin. Perbuatan perawat tentu semena-mena, dokter yang mengobati tentulah para mahasiswa yang sedang belajar. Istilah kasarnya mereka bakal dijadikan sebagai kelinci percobaan. Didalam angkot, sewaktu di perjalanan,

Ibu bercerita bagaimana sampai dia ketemu Bapak kemaren malam. Dia bingung karena sudah kemalaman sampai ke terminal menuju Medan, tidak tahu akan menginap di mana, Uang di saku juga sangat minim, yang ada hanyalah setumpuk permasalah yang mendera di punggung sang Ibu. Ibu tersebut sudah bingung harus membawa kemana anaknya berobat, dengan rujukan surat miskin dia membawa Bismi ke Medan. Dia memiliki 4 orang anak, dan seorang suami yang telah mempoligami dirinya. Pedih memang,tapi itu semua dijalaninya dengan segala ketabahan. Dengan bekerja serabutan dan biaya yang cukup mencekik dalam hal pengobatan terus ia tempuh. Pedih sekali hidup Ibu Bismi. Saya sempat terpikir, apa yang harus saya lakukan jika saya yang berada diposisinya. Besok harinya, Handphone saya berbunyi dan di layar tertera ada sebuah SMS dari Ibu tersebut yang mengabarkan bahwa mereka akan rawat inap di Rumah sakit tersebut. Hati saya mulai ringan dan berharap agar semua berjalan dengan lancar.

Selang beberapa hari kemudian, Ibu tersebut kembali mengirimkan SMS dan didalam SMS tersebut berisikan doa, ucapan terimakasih dan harapan agar Tuhan Membalas apa yang telah kami berikan kepada keluarganya. Hati saya begitu tersentuh, apakah pengorbanan saya yang tak seberapa dan terkesan meninggalkan mereka di tengah jalan tujuan pantas untuk dikirimkan doa seindah itu? Saya merasa bahwa pengetahuan yang akan saya dapatkan di hari itu untuk mata kuliah HUKUM MEDIA MASSA tidaklah lebih berguna dibandingkan dengan membantu ibu tersebut hingga bertemu dengan dokter yang tepat. Kemarin, Ibu tersebut datang kembali kerumah saya. Takdir mempertemukan kami kembali, saya sempat mengobrol dengan dirinya, bercanda dengan Bismi dan kembali mengantarkan mereka sebatas Sumber. Tapi kali ini, hati saya mulai tenang dikarenakan, mereka sudah mulai mengerti akan arah tujuan di kota Medan. Harapan saya yang paling besar adalah, agar Tuhan memberikan kesembuhan kepada Bismi, dipertemukan dengan dokter, perawat dan pegawai Rumah Sakit yang ramah, dan tak lupa kepada Ibu tersebut, agar derita seorang Ibu yang layu sebelum batas usia yang sewajarnya dapat berkurang.

Published in:  on December 6, 2007 at 8:32 am Leave a Comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Published in: Uncategorized on at 6:39 am Comments (2)